Saya rasa sebagian besar orang pernah mendengar kata-kata
seperti ‘aku bakal ngelakuin apapun untuk kamu’—gombalan-gombalan khas orang
yang lagi mabuk asmara. Gak hanya oleh pelaku mabuk asmara, tapi dalam lagu
juga. Lagu berjudul Grenade dari Bruno Mars, misalnya. Kata Bruno,
“I’d catch a grenade for ya, throw my hand on the blade
for ya, I’d jump in front of a train for ya, you know I’d do anything for ya. I
would go through this pain, take a bullet straight through my brain. Yes, I
would die for you, baby...”
Betapa luar biasa cinta Bruno ke pasangannya. Gimana gak
luar biasa, granat saja mau ditangkap sama dia. Ada kereta lewat, rela dia
melompat ke depan kereta itu. Rela dia mati dengan cara ditembak di kepala.
Demi apa? Demi pasangannya. Cinta, katanya.
Tapi saya gak berniat menulis tentang cinta-cintaan.
Maklum, bukan penulis cerita romantis. Pun bukan seorang berpikiran kritis yang
selalu siap sedia menguak dan menganalisis kebenaran. Ini hanya tulisan yang
dibuat dengan intensi agar tidak lupa bahwa pernah memikirkan hal ini, itu
saja.
Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel tentang
biseksualitas. Dalam artikel tersebut, ada sebuah istilah yang menarik
perhatian saya. Adalah performative
bisexuality, yang membuat saya berulang kali membaca paragraf tersebut.
Pertama, dalam rangka memahami konsep tersebut; kedua, karena memang kemampuan
bahasa Inggris dan otak saya yang terbatas, jadi agak lama saja bacanya.
Performative bisexuality (selanjutnya akan
disingkat menjadi PB, bukan Point Blank,
tapi) mengacu pada kegiatan seksual yang dilakukan oleh perempuan heteroseksual
dengan perempuan lain di depan pasangan laki-lakinya, dan demi kesenangan laki-laki
itu1. Ya, demi kesenangan laki-laki. Yang terpikirkan oleh saya
ketika membacanya adalah, wah, cinta
banget yak sama pacarnya, sampe rela ngelakuin hal yang mungkin gak dia nikmati.
Well, kalaupun dia merasa nikmat,
tetap saja pasti gak ada pikiran untuk ngelakuin itu sebelumnya. Asumsi saya, sih,
begitu.
Setelah membaca artikel dari salah satu media daring,
saya baru tahu kalau ternyata PB pun ada lagunya2. Katy Perry dengan I Kissed a Girl ngomong begini, “I kissed a girl and I liked it ... I kissed
a girl just to try it, I hope my boyfriend don’t mind it. It felt so wrong, it
felt so right, don’t mean I’m in love tonight...”
Yang menjadi pertanyaan saya adalah, kenapa? Pertanyaan ini
membawa saya ke artikel selanjutnya, artikel yang juga dikutip oleh artikel
pertama tadi. Ternyata, sebagian besar perempuan yang diwawancarai oleh si penulis
artikel pernah melakukan PB. Perempuan dalam rentang usia 18-38 tahun cenderung
melakukan PB di ruang publik, di bar misalnya. Sedangkan perempuan dalam
rentang usia 39-59 tahun cenderung melakukan PB di ruang privat3.
Sebagian perempuan dalam penelitian tersebut berkata
bahwa mereka merasa baik-baik saja ketika melakukan itu, bahwa PB bersifat fun, tidak lebih. Ada juga yang berkata
bahwa mereka akan menolak jika disuruh melakukan PB. Namun, satu hal yang
menjadi fokus jawaban mereka adalah bahwa PB terjadi atas permintaan laki-laki.
Really, guys? Beberapa artikel yang
pernah saya baca tentang sikap masyarakat atas homoseksualitas mengatakan bahwa
laki-laki memiliki sikap yang lebih negatif terhadap homoseksualitas daripada perempuan.
Dan sekarang mereka malah menyuruh para perempuan untuk berhubungan seks demi
kesenangan mereka? Standar ganda sekali.
Yang lebih membuat saya penasaran adalah kenapa perempuan
mau melakukan PB demi laki-laki. Artikel yang saya baca menawarkan jawaban. Di dunia
yang patriarkal ini, manusia berpenis adalah spesies nomor satu, superior. Laki-laki
boleh jadi pemimpin, perempuan nanti dulu deh. Laki-laki boleh keluyuran sampai
subuh, perempuan jam 9 malam sudah harus di rumah. Laki-laki itu dominan. Laki-laki
itu pemikir, katanya. Tidak heran kalau aturan main yang dipakai dalam
masyarakat adalah aturan yang dibuat oleh laki-laki. Tugas perempuan? Bersikap baik.
Dan lemah lembut. Dan pintar masak. Dan pintar mengurus rumah. Dan menyenangkan
laki-laki. Dan lain sebagainya.
Aturan main yang diinternalisasi oleh perempuan terbawa
juga ke kehidupan seksualnya. Kan, katanya harus menyenangkan laki-laki. Jadi,
ketika laki-laki punya fantasi tentang group
sex, ya harus dilakukan. Supaya apa? Supaya diterima, dicintai oleh laki-laki.
Karena yang tidak ikut aturan main dunia patriarkal ini akan dikucilkan. Diliyankan.
Gak apa-apalah, asal bapak senang.
Yang mengoleksi video porno (atau setidaknya pernah
menonton, kalau tidak mengoleksi), ayo ngaku, pernah kan menonton video porno
yang isinya dua atau lebih perempuan saling servis di depan laki-laki? Saya jelas
pernah. Tapi saya belum pernah menemukan video porno yang isinya dua laki-laki
saling servis di depan perempuan. Yang pernah menemukan, kabari saya, saya mau
ngopi.
Yang perlu diketahui adalah penelitian di artikel yang
saya kutip dilakukan di tanah Amerika Serikat. Mungkin saja PB belum dilakukan
perempuan Indonesia. Tapi kita tahu bahwa sebenarnya ada masalah yang sama di
sini. Siapa sih yang belum pernah dengar ungkapan ‘tempat perempuan itu dapur,
sumur, dan kasur’? Seakan-akan tugas perempuan hanya memastikan bahwa semuanya
akan aman sentosa bagi laki-laki di rumah dan di ranjang.
Sekali lagi, ini bukan artikel ilmiah. Tidak pantaslah
dipercaya sepenuhnya. Dibaca buat hiburan saja. Syukur-syukur kalau bermanfaat.
Kalau ada perempuan independen di luar sana yang kebetulan membaca artikel ini
dan kemudian merasa marah dan ingin mencaci-maki saya karena tidak setuju
dengan apa yang sempat terpikirkan ini, silakan. Siapa tahu saya malah bisa
belajar banyak dari Anda.
Sekarang, pertanyaan saya adalah sejauh apa sih perempuan
mau mengorbankan diri demi kesenangan laki-laki?
Sandai,
29/12/15