Thursday, August 25, 2016

Ketika Benda Mati pun Berjenis Kelamin

Jadi begini.

Saya adalah laki-laki yang kebetulan suka membawa tisu ke mana-mana di dalam tas. Tentu saja untuk dipakai sesuai fungsinya, mengelap. Memang ada fungsi apa lagi selain itu?

Suatu waktu, ada yang mengomentari kebiasaan tersebut. Laki-laki kok bawa-bawa tisu, kurang lebih begitu. Saya mah apa, cuma bisa membalas dengan senyuman, atau paling banter bertanya “memangnya kenapa?”

Heran juga. Entah sejak kapan tisu yang fungsi utamanya adalah mengelap—apapun itu, dari umbel, air mata, bekas makanan, iler, sampai tumpahan air mani di perut—tiba-tiba selalu diidentikkan dengan barang kepunyaan perempuan. Lelaki yang bawa-bawa tisu pun menjadi sasaran ejekan, gak lakik katanya.

Bukan hal baru, memang, melekatkan jenis kelamin ke benda mati. Tisu dengan peremuan, rokok dengan laki-laki, boneka dengan perempuan, mobil-mobilan dengan laki-laki. See? Mainan anak sejak kecil pun sudah ditempeli jenis kelamin.

Pertanyaan saya, apa faedahnya benda-benda itu ditempeli jenis kelamin? Ya biarkan sajalah kalau anak perempuan mau main robot-robotan. Terlalu banyak melekatkan simbol ke benda mati malah bisa jadi membatasi potensi.

Lagipula, kembali ke pertanyaan saya di awal tulisan, memang ada fungsi lain apa dari tisu selain mengelap? Memangnya mengelap cuma aktivitas yang dilakukan perempuan? Ah, entahlah.

Mungkin, beberapa orang sebenarnya sudah berusaha membuat keadaan lebih seimbang. Caranya, memproduksi tisu khusus laki-laki. Jangan salah, tisu ini malah berkebalikan sifatnya dengan tisu biasa. Tisu yang satu ini malah membuat laki-laki lebih lakik. Apalagi kalau bukan Tisu Magic. Iya kan?

Yogyakarta,
13/08/2016

Monday, February 29, 2016

Resolusi dan Ketakutan

Ada empat resolusi yang saya buat di awal tahun 2016. Sederhana saja, saya ingin lulus dari universitas di mana saya sedang mengemis ilmu, saya ingin hidup lebih sehat, saya ingin lebih banyak membaca, dan saya ingin lebih banyak menulis.
Ternyata, sulit untuk melakukan semuanya sekaligus. Yang sedang saya lakukan saat ini adalah proses menuju pemenuhan resolusi pertama: lulus. Resolusi ketiga mungkin sedang berlangsung (walaupun saya tidak begitu yakin). Resolusi kedua dan keempat menjadi agak sulit dilakukan. Pertama, karena niat yang kurang. Kedua, karena untuk menulis, saya harus banyak membaca terlebih dahulu.
Saya mulai memikirkan kenapa saya menjadikan “lebih banyak menulis” sebagai salah satu resolusi saya. Begini, saya rasa saya terpengaruh oleh ungkapan “tulisan adalah warisan, bukti eksistensi diri, bukti bahwa dirimu pernah hidup”. Entah siapa yang bilang begitu, mungkin kalimatnya tidak sama persis, namun begitulah saya menginterpretasikannya. Ada dua cara dalam melihat pernyataan di atas. Pertama, saya punya niat untuk membuat hidup saya lebih berarti dengan meninggalkan tulisan-tulisan yang entah bermanfaat atau tidak; atau sekadar menunjukkan bahwa saya eksis. Kedua, saya takut. Takut terlupakan. Takut menjadi bukan siapa-siapa tiga sampai empat generasi mendatang. Takut sekadar menjadi Reza yang hidup sekian tahun tanpa kontribusi apapun bagi orang lain.
Ngomong-ngomong soal ketakutan, menurutmu mana yang lebih kuat dalam menggerakkan seseorang dalam melakukan sesuatu: ketakutan atau keinginan?

Yogyakarta,
29/02/16

Tuesday, December 29, 2015

Performative Bisexuality: Sejauh Mana Perempuan Mau Berkorban Untuk Pasangannya?

Saya rasa sebagian besar orang pernah mendengar kata-kata seperti ‘aku bakal ngelakuin apapun untuk kamu’—gombalan-gombalan khas orang yang lagi mabuk asmara. Gak hanya oleh pelaku mabuk asmara, tapi dalam lagu juga. Lagu berjudul Grenade dari Bruno Mars, misalnya. Kata Bruno,
“I’d catch a grenade for ya, throw my hand on the blade for ya, I’d jump in front of a train for ya, you know I’d do anything for ya. I would go through this pain, take a bullet straight through my brain. Yes, I would die for you, baby...”

Betapa luar biasa cinta Bruno ke pasangannya. Gimana gak luar biasa, granat saja mau ditangkap sama dia. Ada kereta lewat, rela dia melompat ke depan kereta itu. Rela dia mati dengan cara ditembak di kepala. Demi apa? Demi pasangannya. Cinta, katanya.
Tapi saya gak berniat menulis tentang cinta-cintaan. Maklum, bukan penulis cerita romantis. Pun bukan seorang berpikiran kritis yang selalu siap sedia menguak dan menganalisis kebenaran. Ini hanya tulisan yang dibuat dengan intensi agar tidak lupa bahwa pernah memikirkan hal ini, itu saja.
Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel tentang biseksualitas. Dalam artikel tersebut, ada sebuah istilah yang menarik perhatian saya. Adalah performative bisexuality, yang membuat saya berulang kali membaca paragraf tersebut. Pertama, dalam rangka memahami konsep tersebut; kedua, karena memang kemampuan bahasa Inggris dan otak saya yang terbatas, jadi agak lama saja bacanya.
Performative bisexuality (selanjutnya akan disingkat menjadi PB, bukan Point Blank, tapi) mengacu pada kegiatan seksual yang dilakukan oleh perempuan heteroseksual dengan perempuan lain di depan pasangan laki-lakinya, dan demi kesenangan laki-laki itu1. Ya, demi kesenangan laki-laki. Yang terpikirkan oleh saya ketika membacanya adalah, wah, cinta banget yak sama pacarnya, sampe rela ngelakuin hal yang mungkin gak dia nikmati. Well, kalaupun dia merasa nikmat, tetap saja pasti gak ada pikiran untuk ngelakuin itu sebelumnya. Asumsi saya, sih, begitu.
Setelah membaca artikel dari salah satu media daring, saya baru tahu kalau ternyata PB pun ada lagunya2. Katy Perry dengan I Kissed a Girl ngomong begini, “I kissed a girl and I liked it ... I kissed a girl just to try it, I hope my boyfriend don’t mind it. It felt so wrong, it felt so right, don’t mean I’m in love tonight...”
Yang menjadi pertanyaan saya adalah, kenapa? Pertanyaan ini membawa saya ke artikel selanjutnya, artikel yang juga dikutip oleh artikel pertama tadi. Ternyata, sebagian besar perempuan yang diwawancarai oleh si penulis artikel pernah melakukan PB. Perempuan dalam rentang usia 18-38 tahun cenderung melakukan PB di ruang publik, di bar misalnya. Sedangkan perempuan dalam rentang usia 39-59 tahun cenderung melakukan PB di ruang privat3.
Sebagian perempuan dalam penelitian tersebut berkata bahwa mereka merasa baik-baik saja ketika melakukan itu, bahwa PB bersifat fun, tidak lebih. Ada juga yang berkata bahwa mereka akan menolak jika disuruh melakukan PB. Namun, satu hal yang menjadi fokus jawaban mereka adalah bahwa PB terjadi atas permintaan laki-laki. Really, guys? Beberapa artikel yang pernah saya baca tentang sikap masyarakat atas homoseksualitas mengatakan bahwa laki-laki memiliki sikap yang lebih negatif terhadap homoseksualitas daripada perempuan. Dan sekarang mereka malah menyuruh para perempuan untuk berhubungan seks demi kesenangan mereka? Standar ganda sekali.
Yang lebih membuat saya penasaran adalah kenapa perempuan mau melakukan PB demi laki-laki. Artikel yang saya baca menawarkan jawaban. Di dunia yang patriarkal ini, manusia berpenis adalah spesies nomor satu, superior. Laki-laki boleh jadi pemimpin, perempuan nanti dulu deh. Laki-laki boleh keluyuran sampai subuh, perempuan jam 9 malam sudah harus di rumah. Laki-laki itu dominan. Laki-laki itu pemikir, katanya. Tidak heran kalau aturan main yang dipakai dalam masyarakat adalah aturan yang dibuat oleh laki-laki. Tugas perempuan? Bersikap baik. Dan lemah lembut. Dan pintar masak. Dan pintar mengurus rumah. Dan menyenangkan laki-laki. Dan lain sebagainya.
Aturan main yang diinternalisasi oleh perempuan terbawa juga ke kehidupan seksualnya. Kan, katanya harus menyenangkan laki-laki. Jadi, ketika laki-laki punya fantasi tentang group sex, ya harus dilakukan. Supaya apa? Supaya diterima, dicintai oleh laki-laki. Karena yang tidak ikut aturan main dunia patriarkal ini akan dikucilkan. Diliyankan. Gak apa-apalah, asal bapak senang.
Yang mengoleksi video porno (atau setidaknya pernah menonton, kalau tidak mengoleksi), ayo ngaku, pernah kan menonton video porno yang isinya dua atau lebih perempuan saling servis di depan laki-laki? Saya jelas pernah. Tapi saya belum pernah menemukan video porno yang isinya dua laki-laki saling servis di depan perempuan. Yang pernah menemukan, kabari saya, saya mau ngopi.
Yang perlu diketahui adalah penelitian di artikel yang saya kutip dilakukan di tanah Amerika Serikat. Mungkin saja PB belum dilakukan perempuan Indonesia. Tapi kita tahu bahwa sebenarnya ada masalah yang sama di sini. Siapa sih yang belum pernah dengar ungkapan ‘tempat perempuan itu dapur, sumur, dan kasur’? Seakan-akan tugas perempuan hanya memastikan bahwa semuanya akan aman sentosa bagi laki-laki di rumah dan di ranjang.
Sekali lagi, ini bukan artikel ilmiah. Tidak pantaslah dipercaya sepenuhnya. Dibaca buat hiburan saja. Syukur-syukur kalau bermanfaat. Kalau ada perempuan independen di luar sana yang kebetulan membaca artikel ini dan kemudian merasa marah dan ingin mencaci-maki saya karena tidak setuju dengan apa yang sempat terpikirkan ini, silakan. Siapa tahu saya malah bisa belajar banyak dari Anda.
Sekarang, pertanyaan saya adalah sejauh apa sih perempuan mau mengorbankan diri demi kesenangan laki-laki?

Sandai,
29/12/15

Referensi:
1Dworkin, S. H. (2013). Bisexual identities. Dalam C. J. Patterson, & A. R. D’Augelli (Eds.), Handbook of psychology and sexual orientation (hlm. 31-41). New York, NY: Oxford University Press.
2https://bitchmedia.org/post/visibility-performing-bisexuality-katy-perry-lowndes-music-feminism
3Fahs, B. (2009). Compulsory bisexuality?: The challenges of modern sexual fluidity. Journal of Bisexuality, 9, 431-449.

Saturday, December 5, 2015

Pagi dan Pertemuan

Sedang hujan di sini dan sekarang. Persis seperti sore di mana Mas Gigih mendapat inspirasi untuk menulis—atau membuat, menyusun, mengkonstruk—tugas akhirnya. Mengingatkan saya bahwa ada yang harus ditulis untuk sekadar menjaga ingatan agar tidak segera hilang dilahap waktu. Semoga bisa saya tuliskan dengan benar. Dan bermanfaat, yang utama.
Setelah sekian lama, Sabtu pagi saya (05/12/15) akhirnya terisi lagi oleh kegiatan yang membuat saya cukup senang. Salah satu lembaga di bawah naungan universitas mengadakan talkshow kecil, temanya ‘Iman dan Perjuangan Hak Asasi Manusia’. Judulnya berat memang. Saya mendaftar karena saya (merasa) cukup tertarik dengan isu-isu pelanggaran HAM. Saya datang sebagai seorang yang ingin belajar, bukan menyumbang argumen. Maklum, newbie.
Singkat kata, hadir dan duduklah saya tepat di depan para pembicara. Membaca judul talkshow-nya, saya pikir para pembicara akan mengupas kasus-kasus tentang isu HAM terkait agama. Saya salah. Ternyata, yang dibahas adalah mengenai pendidikan dan musik, serta sedikit tentang iman. Kok agak tidak nyambung? Sempat berpikir begitu tentang apa yang dibicarakan dengan judul talkshow. Entahlah, mungkin saya yang tidak menangkap pesan implisit pembicara, tolong saya ditunjukkan, buat yang menghadiri acara yang sama. Maklum, newbie.
Terlepas dari interpretasi saya bahwa ada ketidaksinkronan isi pembicaraan dengan judul talkshow, saya tetap menyukai dan senang dengan acara tersebut. Dari apa yang dibicarakan ketiga pembicara, garis besar yang saya tangkap—lagi-lagi tunjukkan saya jika ada yang salah—adalah kerjakanlah apa yang kamu kerjakan saat ini dengan totalitas. Bertanggung jawab dengan pilihan, begitu katanya.
Tentu saja saya terkesima. Bagaimana tidak, yang berbagi pengalaman adalah orang-orang hebat. Ada Pak Haryanto yang bersama rekan-rekannya berjuang demi sebuah SD yang tahun ’98 dulu hampir ditutup oleh yayasan yang menaunginya. Sekarang SD tersebut memang sudah lepas dari yayasan tersebut, namun tetap hidup dengan 38 siswa secara keseluruhan. Ada juga Mas Gardika Gigih, komponis muda berbakat yang dua-tiga bulan lalu berangkat ke Jepang untuk berkarya dengan genteng sebagai medianya. Ya, musik genteng. Lalu, ada Romo Adri yang mengabdikan diri di Lembaga Pengabdian Masyarakat Realino. Tugasnya membantu para anak muda yang ingin melanjutkan sekolah, namun berkekurangan.
Temanya boleh jadi ‘Iman dan Perjuangan HAM’. Tetapi tawa menjadi pengiring isi pembicaraan. Tidak seserius yang saya pikirkan, untungnya. Betapa hati terhibur mendengar para siswa SD PL Kalirejo menguburkan tikus mati dan mendoakan supaya ia masuk surga. Atau niat menyate keong yang berubah jadi memelihara keong di kolam buatan sendiri di sekitar sekolah. Atau pertanyaan siswa TK di Jepang tentang apakah di Indonesia ada genteng atau tidak. Para pembicara telah berhasil menyentuh hati saya pagi tadi. *cieeee*
Yang saya lihat adalah bahwa ada hati dan cinta dalam setiap karya yang mereka lakukan. Betapa besar cinta Pak Haryanto terhadap siswa-siswanya sehingga beliau merasa rindu kalau seminggu saja tidak bertemu. Betapa besar cinta Mas Gigih terhadap musik—dan hujan—sehingga melodi tercipta ketika hujan turun. Ya, Mas Gigih cinta hujan, katanya. Betapa besar cinta Romo Adri kepada para pemuda sehingga selalu berusaha membantu mereka yang ingin melanjutkan sekolah. Oke, ini mulai terdengar ambigu.
Saya jelas tidak mampu mendampingi anak-anak. Menciptakan musik apalagi. Membantu yang berkebutuhan? Saya pun masih butuh bantuan. Entahlah, saya masih krisis cita-cita. Belum benar-benar menentukan apa yang ingin saya lakukan di masa depan. Yang saya tau, tiga pembicara tadi pagi mengajarkan saya bahwa totalitas dalam mengerjakan karyamulah yang penting.
Kalau Mas Gigih membuat komposisi berjudul ‘Hujan dan Pertemuan’, maka saya akan menamakan komposisi saya ‘Pagi dan Pertemuan’. Hati senang karena Sabtu pagi saya diisi oleh orang-orang inspiratif yang luar biasa. Terima kasih, Mas, Pak, Romo. Semoga karya-karyamu selalu menginspirasi. Oh ya, membaca ini sambil mendengar karya Mas Gigih di sini mungkin cukup menyenangkan. Sekian.

Yogyakarta,
05/12/15