Sedang hujan di sini dan sekarang. Persis seperti sore di
mana Mas Gigih mendapat inspirasi untuk menulis—atau membuat, menyusun,
mengkonstruk—tugas akhirnya. Mengingatkan saya bahwa ada yang harus ditulis
untuk sekadar menjaga ingatan agar tidak segera hilang dilahap waktu. Semoga
bisa saya tuliskan dengan benar. Dan bermanfaat, yang utama.
Setelah sekian lama, Sabtu pagi saya (05/12/15) akhirnya
terisi lagi oleh kegiatan yang membuat saya cukup senang. Salah satu lembaga di
bawah naungan universitas mengadakan talkshow
kecil, temanya ‘Iman dan Perjuangan Hak Asasi Manusia’. Judulnya berat memang.
Saya mendaftar karena saya (merasa) cukup tertarik dengan isu-isu pelanggaran
HAM. Saya datang sebagai seorang yang ingin belajar, bukan menyumbang argumen.
Maklum, newbie.
Singkat kata, hadir dan duduklah saya tepat di depan para
pembicara. Membaca judul talkshow-nya,
saya pikir para pembicara akan mengupas kasus-kasus tentang isu HAM terkait
agama. Saya salah. Ternyata, yang dibahas adalah mengenai pendidikan dan musik,
serta sedikit tentang iman. Kok agak
tidak nyambung? Sempat berpikir begitu tentang apa yang dibicarakan dengan
judul talkshow. Entahlah, mungkin
saya yang tidak menangkap pesan implisit pembicara, tolong saya ditunjukkan,
buat yang menghadiri acara yang sama. Maklum, newbie.
Terlepas dari interpretasi saya bahwa ada
ketidaksinkronan isi pembicaraan dengan judul talkshow, saya tetap menyukai dan senang dengan acara tersebut.
Dari apa yang dibicarakan ketiga pembicara, garis besar yang saya tangkap—lagi-lagi
tunjukkan saya jika ada yang salah—adalah kerjakanlah apa yang kamu kerjakan
saat ini dengan totalitas. Bertanggung jawab dengan pilihan, begitu katanya.
Tentu saja saya terkesima. Bagaimana tidak, yang berbagi
pengalaman adalah orang-orang hebat. Ada Pak Haryanto yang bersama
rekan-rekannya berjuang demi sebuah SD yang tahun ’98 dulu hampir ditutup oleh
yayasan yang menaunginya. Sekarang SD tersebut memang sudah lepas dari yayasan
tersebut, namun tetap hidup dengan 38 siswa secara keseluruhan. Ada juga Mas
Gardika Gigih, komponis muda berbakat yang dua-tiga bulan lalu berangkat ke
Jepang untuk berkarya dengan genteng sebagai medianya. Ya, musik genteng. Lalu,
ada Romo Adri yang mengabdikan diri di Lembaga Pengabdian Masyarakat Realino.
Tugasnya membantu para anak muda yang ingin melanjutkan sekolah, namun
berkekurangan.
Temanya boleh jadi ‘Iman dan Perjuangan HAM’. Tetapi tawa
menjadi pengiring isi pembicaraan. Tidak seserius yang saya pikirkan,
untungnya. Betapa hati terhibur mendengar para siswa SD PL Kalirejo menguburkan
tikus mati dan mendoakan supaya ia masuk surga. Atau niat menyate keong yang
berubah jadi memelihara keong di kolam buatan sendiri di sekitar sekolah. Atau
pertanyaan siswa TK di Jepang tentang apakah di Indonesia ada genteng atau
tidak. Para pembicara telah berhasil menyentuh hati saya pagi tadi. *cieeee*
Yang saya lihat adalah bahwa ada hati dan cinta dalam
setiap karya yang mereka lakukan. Betapa besar cinta Pak Haryanto terhadap
siswa-siswanya sehingga beliau merasa rindu kalau seminggu saja tidak bertemu.
Betapa besar cinta Mas Gigih terhadap musik—dan hujan—sehingga melodi tercipta
ketika hujan turun. Ya, Mas Gigih cinta hujan, katanya. Betapa besar cinta Romo
Adri kepada para pemuda sehingga selalu berusaha membantu mereka yang ingin
melanjutkan sekolah. Oke, ini mulai terdengar ambigu.
Saya jelas tidak mampu mendampingi anak-anak. Menciptakan
musik apalagi. Membantu yang berkebutuhan? Saya pun masih butuh bantuan.
Entahlah, saya masih krisis cita-cita. Belum benar-benar menentukan apa yang
ingin saya lakukan di masa depan. Yang saya tau, tiga pembicara tadi pagi
mengajarkan saya bahwa totalitas dalam mengerjakan karyamulah yang penting.
Kalau Mas Gigih membuat komposisi berjudul ‘Hujan dan
Pertemuan’, maka saya akan menamakan komposisi saya ‘Pagi dan Pertemuan’. Hati
senang karena Sabtu pagi saya diisi oleh orang-orang inspiratif yang luar
biasa. Terima kasih, Mas, Pak, Romo. Semoga karya-karyamu selalu menginspirasi.
Oh ya, membaca ini sambil mendengar karya Mas Gigih di sini mungkin cukup
menyenangkan. Sekian.
Yogyakarta,
05/12/15