Jadi begini.
Saya adalah laki-laki yang kebetulan
suka membawa tisu ke mana-mana di dalam tas. Tentu saja untuk dipakai sesuai
fungsinya, mengelap. Memang ada fungsi apa lagi selain itu?
Suatu waktu, ada yang mengomentari
kebiasaan tersebut. Laki-laki kok bawa-bawa tisu, kurang lebih begitu. Saya mah
apa, cuma bisa membalas dengan senyuman, atau paling banter bertanya “memangnya
kenapa?”
Heran juga. Entah sejak kapan tisu yang
fungsi utamanya adalah mengelap—apapun itu, dari umbel, air mata, bekas
makanan, iler, sampai tumpahan air mani di perut—tiba-tiba selalu diidentikkan
dengan barang kepunyaan perempuan. Lelaki yang bawa-bawa tisu pun menjadi
sasaran ejekan, gak lakik katanya.
Bukan hal baru, memang, melekatkan jenis
kelamin ke benda mati. Tisu dengan peremuan, rokok dengan laki-laki, boneka
dengan perempuan, mobil-mobilan dengan laki-laki. See? Mainan anak sejak kecil pun sudah ditempeli jenis kelamin.
Pertanyaan saya, apa faedahnya
benda-benda itu ditempeli jenis kelamin? Ya biarkan sajalah kalau anak
perempuan mau main robot-robotan. Terlalu banyak melekatkan simbol ke benda
mati malah bisa jadi membatasi potensi.
Lagipula, kembali ke pertanyaan saya di
awal tulisan, memang ada fungsi lain apa dari tisu selain mengelap? Memangnya mengelap
cuma aktivitas yang dilakukan perempuan? Ah, entahlah.
Mungkin, beberapa orang sebenarnya sudah
berusaha membuat keadaan lebih seimbang. Caranya, memproduksi tisu khusus
laki-laki. Jangan salah, tisu ini malah berkebalikan sifatnya dengan tisu
biasa. Tisu yang satu ini malah membuat laki-laki lebih lakik. Apalagi kalau
bukan Tisu Magic. Iya kan?
Yogyakarta,
13/08/2016
No comments:
Post a Comment