Ada
empat resolusi yang saya buat di awal tahun 2016. Sederhana saja, saya ingin
lulus dari universitas di mana saya sedang mengemis ilmu, saya ingin hidup
lebih sehat, saya ingin lebih banyak membaca, dan saya ingin lebih banyak
menulis.
Ternyata,
sulit untuk melakukan semuanya sekaligus. Yang sedang saya lakukan saat ini
adalah proses menuju pemenuhan resolusi pertama: lulus. Resolusi ketiga mungkin
sedang berlangsung (walaupun saya tidak begitu yakin). Resolusi kedua dan
keempat menjadi agak sulit dilakukan. Pertama, karena niat yang kurang. Kedua,
karena untuk menulis, saya harus banyak membaca terlebih dahulu.
Saya
mulai memikirkan kenapa saya menjadikan “lebih banyak menulis” sebagai salah
satu resolusi saya. Begini, saya rasa saya terpengaruh oleh ungkapan “tulisan
adalah warisan, bukti eksistensi diri, bukti bahwa dirimu pernah hidup”. Entah
siapa yang bilang begitu, mungkin kalimatnya tidak sama persis, namun begitulah
saya menginterpretasikannya. Ada dua cara dalam melihat pernyataan di atas. Pertama,
saya punya niat untuk membuat hidup saya lebih berarti dengan meninggalkan
tulisan-tulisan yang entah bermanfaat atau tidak; atau sekadar menunjukkan
bahwa saya eksis. Kedua, saya takut. Takut terlupakan. Takut menjadi bukan
siapa-siapa tiga sampai empat generasi mendatang. Takut sekadar menjadi Reza
yang hidup sekian tahun tanpa kontribusi apapun bagi orang lain.
Ngomong-ngomong
soal ketakutan, menurutmu mana yang lebih kuat dalam menggerakkan seseorang
dalam melakukan sesuatu: ketakutan atau keinginan?
Yogyakarta,
29/02/16