Monday, February 29, 2016

Resolusi dan Ketakutan

Ada empat resolusi yang saya buat di awal tahun 2016. Sederhana saja, saya ingin lulus dari universitas di mana saya sedang mengemis ilmu, saya ingin hidup lebih sehat, saya ingin lebih banyak membaca, dan saya ingin lebih banyak menulis.
Ternyata, sulit untuk melakukan semuanya sekaligus. Yang sedang saya lakukan saat ini adalah proses menuju pemenuhan resolusi pertama: lulus. Resolusi ketiga mungkin sedang berlangsung (walaupun saya tidak begitu yakin). Resolusi kedua dan keempat menjadi agak sulit dilakukan. Pertama, karena niat yang kurang. Kedua, karena untuk menulis, saya harus banyak membaca terlebih dahulu.
Saya mulai memikirkan kenapa saya menjadikan “lebih banyak menulis” sebagai salah satu resolusi saya. Begini, saya rasa saya terpengaruh oleh ungkapan “tulisan adalah warisan, bukti eksistensi diri, bukti bahwa dirimu pernah hidup”. Entah siapa yang bilang begitu, mungkin kalimatnya tidak sama persis, namun begitulah saya menginterpretasikannya. Ada dua cara dalam melihat pernyataan di atas. Pertama, saya punya niat untuk membuat hidup saya lebih berarti dengan meninggalkan tulisan-tulisan yang entah bermanfaat atau tidak; atau sekadar menunjukkan bahwa saya eksis. Kedua, saya takut. Takut terlupakan. Takut menjadi bukan siapa-siapa tiga sampai empat generasi mendatang. Takut sekadar menjadi Reza yang hidup sekian tahun tanpa kontribusi apapun bagi orang lain.
Ngomong-ngomong soal ketakutan, menurutmu mana yang lebih kuat dalam menggerakkan seseorang dalam melakukan sesuatu: ketakutan atau keinginan?

Yogyakarta,
29/02/16